Dalam buku karangan Joshua Harries yang berjudul I kissed dating Goodbye membawa kita dalam membayangkan menjaga hati seolah-olah hati kita adalah sumber mata air yang segar yang darinya kita ingin minum setiap hari. Alkitab mengatakan kepada kita bahwa hati merupakan “pancaran kehidupan” . (Amsal 4:23 berkata jagalah hatiMu dengan segala kewaspadaan , karena dari situlah terpancar kehidupan). Kita harus mempertahankan kemurnian hati kita dan terus menjaganya dari berbagai hal yang dapat mengotori hati kita. Karena hati kita merupakan sumber dari sikap, ucapan, dan perbuatan-perbuatan kita.

Sebuah dongeng oleh Peter Marshall yang berjudul “Penjaga Mata Air” mengisahkan seorang tua yang tinggal di hutan yang tenang yang dahulunya tinggal di sebuahdesa di Austria di sepanjang lereng bagian timur gunung Alpen. Beberpa tahun yang lalu dewan kota telah menyewa orang tua ini sebagai penjaga mata air untuk memlihara kolam air di celah-celah gunung. Aliran dari kolam ini mengalir menuruni sisi gunung dan memberikan suplai air yang mengalir melalui kota. Secara teratur dan setia Si Penjaga Mata Air ini berpatroli di sekeliling bukit memunguti dedaunan dan ranting-ranting dari kolam dan membersihkan endapan lumpur yang dapat mengotori sumber mata air tersebut.

Lama kelamaan desa itu menjadi daya tarik bagi para wisatawan. Angsa-angsa berenang di atas mata air yang berkilauan. Roda-roda pengilingan dari berbagai perusahan dekat mata air itu berputar siang dan malam. Tanah-tanah pertanian mendapatkan irigasi alam, dan pemandangan dari restoran-restoran tampak berkilauan.
Tahun demi tahun berlalu. Suatu sore dewan kota mengadakan pertemuan tengah tahunan untuk mengkaji anggaran. Mata salah seorang dewan tertuju pada honor yang diberikan kepada Penjaga Mata Air itu. “Siapakah orang tua ini?” dengan nada suara yang penuh kemarahan, orang tua ini tidak berguna bagi kita. Ia tidak lagi diperlukan. Dengan suatu pemungutan suara akhirnya dewan membuang jasa pak tua itu.

Selama beberapa minggu tidak ada yang berubah. Tetapi menjelang awal musim gugur, pohon-pohon mulai menggugurkan daun-daunnya. Ranting-ranting kecil patah dan jatuh ke dalam kolam, menghalangi aliran air yang berkilauan. Pada suatu siang, seseorang memperhatikan warna kuning kecoklatan di mata air tersebut. Beberapa hari kemudian air itu telah menjadi gelap. Dalam satu minggu, lapisan lumpur yang tipis menutupi mata air di sepanjang sisinya, dan bau busuk tercium dari mata air itu. Roda-roda penggilingan bergerak lambat, beberapa diantaranya akhirnya berhenti sama sekali. Beberpa perusahaan yang ada di dekat sana tutup. Angsa-angsa pindah ke air yang lebh segar di tempat yang jauh, dan para wisatawan tidak lagi mengunjungi kita itu. Pada akhirnya, cengkraman penyakit dan wabah menyerang desa tersebut.

Dewan kota yang berpandangan dangkal tersebut telah menikmati keindahan mata air itu tetapi meremehkan pentingnya penjagaan sumber mata air tersebut. Demikian halnya dengan kita. Sering kali kita juga membuat kesalahan yang sama di dalam hati kita. Kita sering kali mengabaikan kemurniaan hati kita dan menjaganya agar tetap bersih. Beberapa contoh diantaranya adalah ketika seseorang yang katakan saja tidak sengaja menyakiti hati kita, kita tidak sudi untuk memberikan waktu kita untuk berpikir sejenak mengenai orang yang menyakiti hati kita. Yang ada dalam pikiran kita adalah dia telah menyakiti hati kita. Kita tidak mau repot-repot untuk mengarahkan konsentrasi kita kepada orang tersebut. Akhirnya yang ada di dalam hati kita adalah kebencian. Pada saat itu juga, kita telah membiarkan ranting-ranting pohon dan dedaunan mengotori mata air di hati kita. Kita merasa malas untuk memungut ranting-ranting dan dedaunan dari mata air tersebut. Kita lupa betapa pentingnya menjaga kemurnian hati kita, sama seperti dewan kota tersebut yang meremehkan pentingnya penjagaan sumber mata air itu. Maka dari hati kita yang kotor itu terpancar sikap yang kasar terhadap orang tersebut, perkataan yang sinis dan penuh kemarahan terhadap orang tersebut, dan perbuatan-perbuatan yang menyakiti hati orang tersebut dengan perasaan balas dendam.

Namun untuk menjaga mata air agar tetap bersih dan mempertahankan kemurnian hati kita bukan merupakan hal yang gampang untuk dilakukan. Hati manusia sangat mudah diombang-ambingkan oleh situasi dan keadaan. Untuk itu kita perlu secara konsisten mengevaluasi kemurnian hati kita di dalam doa, dan meminta Allah untuk mengungkapkan hal-hal kecil yang mengotori hati kita. Ketika Allah mengungkapkan sikap, kerinduan, dan keinginan kita yang salah, kita harus membuang itu semua dari hati kita.

Si Penjaga Mata air, pekerjaan yang tidak pernah berakhir. Demikian juga menjaga kemurnian hati adalah suatu tugas yang tidak pernah berakhir. Tuhan mengenal setiap hati kita. Dia tahu apa tujuan kita sebelum kita melakukan sesuatu. 1 Yohanes 3:20 “Karena Allah adalah lebih besar daripada hati kita, serta mengetahui segala sesuatu”. Ia mengerti bagaimana rasanya menghadapi percobaan. Ia akan menolong dan menopang kita ketika kita percaya kepada-Nya dan dengan setia menjaga hati kita.

Mungkin pernah terlintas di dalam pikiran kita, mengapa ketika pergumulan dan permasalahan datang menghampiri hidup kita, sering kali kita merasa lemah dan tidak berdaya menghadapinya. . .
Meskipun kondisi rohani kita sedang membaik, dan kita sedang mengalami masa-masa bertumbuh dalam mengenal Tuhan, namun di saat masalah itu datang mengintip di depan pintu dan datang kedalam kehidupan kita, kita mulai kehilangan semangat dan kekuatan di dalam diri kita. Kita mulai menfokuskan pikiran kita pada masalah tersebut, dan mulai melupakan Tuhan.
Seorang mahasiswa kristen yang sedang menikmati pertumbuhan rohaninya sangat semangat dalam menjalani berbagai aktivitasnya sehari-hari. Hatinya penuh suka cita karena sehari-hari dia berjalan bersama kristus. Semua tampak baik-baik saja. Dia juga sangat menikmati berberapa pelayanannya di gereja. Dia juga semangat untuk belajar mengasihi orang-orang di sekitarnya dan menjadi berkat bagi orang-orang di sekitarnya. Setiap hari dia selalu membaca alkitab dan merenungkan firman Tuhan, berharap dia boleh s'makin mengenal kristus dalam hidupnya.

Suatu ketika hal yang paling dia takuti datang menghampirinya. Nilai Ujiannya jatuh dan dia sangat terpukul akan hal itu. hal itu seketika menggoncang imannya. Bayangkan saja seolah-olah anda sudah menabung uang dibank sejak anda bekerja sampai anda pensiun, hanya untuk membeli rumah bagi orang-orang yang anda kasihi, tiba-tiba uang tersebut amblas karena bank tersebut dilikuidasi. uang yang banyak itu sekarang hanya menjadi uang untuk biaya hidup selama seminggu. Anda merasa jengkel, stress, dan kehilangan pengharapan.

Mungkin hal yang sama dialamin oleh mahasiswa tsb. mengapa tidak, seorang yang sedang menikmati pertumbuhan kerohanian, yang sehari-hari terus merenungkan firman Tuhan berharap akan s'makin mengenal Tuhan, tiba-tiba saja masalah itu menghancurkan semangatnya. kehilangan pengharapan, itu lah yang dialamin anak tersebut.

lalu anak itu pun mulai berdoa, dan mencari ayat-ayat alkitab yang biasa menguatkan dia. namun hasilnya nihill... Dia s'makin terbeban akan nilai ujiannya yang jelek. Pribadi yang dulunya begitu mengebu-gebu dalam mencari dan melayani Tuhan, tiba-tiba saja menjadi pribadi yang sangat memprihatinkan. Dia pun mulai bertanya-tanya apakah Tuhan sadar akan apa yang dia alami saat ini. Apakah Tuhan tahu anakNya yang sehari-hari penuh suka cita dalam menjalani kehidupan tiba-tiba menjadi seorang anak yang kehilangan pengharapan.

Bersyukur kepada Tuhan, anak tersebut sangat beruntung. dia mengenal Allah yang penuh dengan cinta kasih, Allah yang meskipun anakNya putus asa terhadap diriNya, namun Allah yang penuh dengan cinta kasih tidak pernah putus asa terhadap anakNya. Dia mengenal setiap hati anakNya dan Dia sangat menyanyangi mereka. Lalu Allah pun menyentuh hati anak tersebut. Allah memberikan dia penghiburan dan memberikan dia pengharapan baru di dalam kehidupannya.

Hari-hari pun berlalu dan dia pun mulai melupakan persoalan yang membawa kehidupannya jauh dari pada Tuhan. dia pun mulai melakukan disiplin rohani dan berusaha untuk tidak mengingat hal tersebut. dia mulai mencari Tuhan, dan semangatnya melayani Tuhan mulai kembali. meskipun hal-hal yang dianggap pahit olehnya kadang-kadang terlintas di pikirannya, namun dia selalu suka cita, karena Allah yang penuh kasih memberikan harapan dan kelegaan kepadanya. Imannya telah dipulihkan, dan dia pun mulai merasakan kembali bagaimana indahnya kehidupan yang bersandar kepada Tuhan.
(Amsal 24:6 "Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun Ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana")
anak tersebut melihat sendiri bagaimana karya Tuhan didalam kehidupanya ketika nilai ujian akhirnya mendapat nilai yang cukup bagus. dia tersenyum didalam hatinya sambil berkata dalam hatinya "Tuhan sungguh... Engkau luar biasa, terima kasih karena Engkau mau campur tangan dalam kehidupanku" . mulai saat itu juga, anak tersebut mendapatkan pelajaran yang sangat penting dalam hidupnya yakni belajar untuk taat dan tetap bersandar kepada Tuhan.setiap pergumulan dan persoalan yang datang menghampirinya saat ini, dijadikan kesempatan baginya untuk menunjukan ketaatanya kepada Tuhan.

Yakini lah bahwa setiap hal yang terjadi di dalam kehidupan kita adalah sarana yang bisa Dia pakai untuk menyampaikan sesuatu kepada kita. Dia ingin kita belajar untuk taat dan Dia ingin kita belajar bersandar kepadaNya. sesungguhnya orang yang mempecayakan seluruh kehidupannya kepada Tuhan tidak pernah putus asa untuk tetap datang kepada Tuhan.
(Yesaya 55:8 "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan")


Bapa ku yang ada di dalam surga. . .


hamba mengerti ya Bapa,

Engkau sangat mengasihi anak

yang meskipun dalam menghadapi kondisi yang sulit tetap setia kepada Engkau

Engkau sangat mengasihi anak yang tidak pernah putus asa terhadap Engkau

maka dari itu hamba ingin belajar untuk menjadi anak tersebut

terima kasih ya Tuhan

Engkau lah penulis hidup ku...

Allah yang baik, Allah yang penuh dengan cinta kasih...